Sunday, April 12, 2009

Ke-iri-an ku

Satu lagi kejelekan seorang Surya Hardhiyana Putra muncul ke permukaan. Sebenarnya sih dah muncul dari lama, tapi aku baru mengetahuinya sekarang. Aku suka iri. Rasa iri ini sebenarnya bukan iri yang termasuk penyakit hati lho ya. Aku merasa iri dan mendadak ingin menjadi seperti mereka.

Dulu aku iri banget dengan musisi. Mendadak ingin menjadi pemain band seperti mereka. Keren, terkenal, dan musiknya bisa dinikmatin banyak orang. Rasanya mungkin bakal menyenangkan banget melihat seseorang di luar sana menyanyikan laguku. Bahkan laguku menjadi inspirasi banyak orang. Oh alangkah senangnya. Saat itu juga aku beli gitar. Aku belajar otodidak dari buku-buku. Jadi ABG (baca: Awan Bengi Gitaran) tiap hari. He he he.

Eh, hanya dalam waktu dekat. Ke-iri-an lain muncul. Padahal main gitar belum jago banget, hanya sekedar genjreng-genjreng aja. Akhirnya selesailah belajar gitarnya sampai disini.

Ke-iri-an ku kali ini pada penulis. Ini gara-gara aku baca buku Jomblo karangan Adhitya Mulya serta Test Pack karya Ninit Yunita. They are my fave writer. Asyik kali ya jadi penulis. Ngelihat buku kita laris manis. Bahasa kerennya Best Seller. Dibaca banyak pembaca. Datang dari kota ke kota buat ngasih tanda tangan (ce ileee.. impiannya tinggi banget ya).

Sebenarnya sejak lama suka nulis. Inspirasi pertamaku adalah Hilman “Lupus” Hariwijaya. Aku masih ingat banget mottonya.. “Bakat cuman berperan 1 % dalam hidup seseorang, 99 % kerja keras”. Sampai sekarang aku masih menyimpan secarik kertas berisi profilnya yang sengaja kusobek dari sebuah majalah di tempat penjualan majalah bekas.

Jadilah sejak saat itu aku tergila-gila dengan sastra. Dimana-mana pinginnya nulis. Awalnya bikin2 cerpen. Lalu setelah lumayan terlatih (penilaian pribadi nih), bikin cerpan (baca : cerita panjang, red) alias novel. Semua novelku statusnya hampir jadi. Kenapa hampir? Karena ga ada yang jadi. Eh ada ding. Cuma satu.

Dan dari semua karyaku yang otodidak itu, tak satupun akhirnya yang berani ku kirimkan ke penerbit. Lha dalah… Lha terus menulis selama ini buat apa? Aku ndiri juga ga tau. Kenapa ya aku kok gak pede buat ngirimin meski hanya satu naskah aja??

Oh iya hobi nulis ini lah yang sempat membuatku jadi wartawan lho. Sayang aku hanya bertahan sebentar disana. Padahal kalau aku mau sabar, banyak ilmu yang bisa kudapat dari sana.

Belajar sastra belum sampai finish. Itupun cuma otodidak, tanpa ada tempat untuk sharing dan diskusi, eh udah iri lagi sama hal lain. Apa itu? Fotografi.

Ngelihat foto2 bagus yang terpajang di internet serta pameran foto, membuat aku (lagi-lagi) mendadak pingin jadi fotografer. Ya kayak yang tadi2 alasannya. Keren, bisa jalan kemana-mana, dll. Akhirnya aku sering meminjam kamera DSLR milik kantor (kebetulan di kantor lama dulu ada kamera DSLR, dan aku adalah penanggung jawab kameranya, he he) untuk mengambil sebuah moment.

Ini hasil beberapa jepretan

Itu untuk hobby… Sekarang aku berbicara tentang pekerjaan.

Dulu (waktu lulus SMU), aku ingin suatu saat nanti jadi dosen. Terus menuntut ilmu. Sekolah di Luar Negeri dll. Aku dulu membayangkan berjalan-jalan dari stadion ke stadion ternama di Eropa. Wembley di London, Old Trafford di Manchester, Amsterdam Arena, Nou Camp di Barcelona, Parc de princess di Paris dan tentunya Stadion San Siro di Milan, kandang klub idolaku AC Milan. Banyak yang bilang kalau sudah sampai Eropa, maka mau muter2 kemana-mana gampang.

Tetapi begitu masuk kuliah, cita-cita itu serasa menguap. Aku tidak siap mental. Kuliah ternyata berbeda dengan SMU. Butuh belajar yang rajin dan kerja keras dalam kuliah. Jeleknya, bukannya aku makin rajin, malah aku makin down. Cita-cita jadi dosen pun menguap kemana-mana. Jangankan jadi dosen, jadi Mahasiswa aja bego’ kayak gini. Kalau jadi dosen… Mmmm bisa dibayangkan.

Cita-cita itu menguap. Terbang melayang tanpa tahu kemana. Atau malah terpendam di dalam tanah.

Akhirnya impianku pun ku revisi. Bukan bintang di langit lagi yang ingin kugapai. Tapi hanya mengejar atap rumah yang tingginya hanya 3 meter. Yang hanya dengan sekali loncat, aku bisa menggapainya. Menggapai sesuatu yang mudah saja.

Cita-citaku jadi naïf. Aku ingin jadi pegawai. That’s enough. Itu saja.

Sekarang, jadilah aku menjadi pegawai / karyawan seperti hasil revisi cita-citaku. Senang? Alhamdulillah. Tapi karena ini bukan impianku yang sesungguhnya, masih ada rasa mengganjal di hati. Apalagi setelah melihat ada beberapa teman yang sekarang tengah berjuang seperti yang aku cita-citakan, Takul Choiri di Norway, M Fatikul Arief di Portugal, dan ada seseorang lagi yang mungkin hampir akan pergi ke Belanda. Aku bangga dengan mereka. Aku berharap mereka mereka dapat membawa nama Indonesia di level Internasional. Tapi di sisi lain dada ini sesak. Iri melihat mereka. Iri banget. Ingin bisa seperti mereka.

Itulah kisah tentang kelemahanku. Iri. Disisi lain bagus untuk memotivasiku, tetapi di sisi lain, hal ini yang terkadang membunuhku dan membuatku merasa sangat lemah.

Kini aku berusaha untuk melawan rasa Iri itu. Aku berdoa kepada-Nya, meminta kekuatan untuk menjadi hamba-Nya yang lebih bersyukur. Aku kira aku sudah cukup beruntung dengan hidupku sekarang. Sekarang ini yang kubutuhkan hanyalah fokus pada salah satu hobby, salah satu pekerjaan.

Aku pernah bertanya pada salah seseorang yang ku-iri-kan itu. Kenapa kamu bisa sukses?

Jawaban yang sangat simple…

“Aku tidak melakukan apa-apa kok. Aku hanya melakukan dan mengerjakan apa yang ada didepanku. Itu saja.”

Jadi kerjakanlah apa yang ada di depan mata. Jika ada kesempatan ambil, karena kesempatan tidak datang dua kali.

Hmmm… cukup ah nulis uneg2nya….

Akhir kata… kira-kira ada nggak ya di dunia ini yang iri kepadaku, he he he. Tapi dipikir-pikir ga ada yang patut di-iri-in dari diriku sih :)

4 Comments:

Anonymous said...

iya sur ...aku gak ngiri awakmu kok
aku cuma ngiri dadi direktur / dekom ae.

Anonymous said...

seperti pepatah bilang klo rumput tetangga terlihat lebih hijau... sisi positif dr pepatah ini kamu jadi termotivasi gmn caranya rumputmu sama hijaunya or lebih hijau dr rumput tetangga... :)


emang kesempatan yg ada di depan mata, gak datang dua kali... atau barangkali kamu yang gak buka mata lebar2, sehingga kamu gak melihat kesempatan2 yang lainnya yg sebenernya ada disekelilingmu???

selagi masih muda, boleh donk punya banyak cita2, apalagi kamu punya potensi...

Surya said...

Waduh...
dua Anynomous ini siapa ya???

Thanks banget buat sarannya :)

Anonymous said...

sipppp....

dari iri - termotivasi - semangat 45 untuk berusaha...

nothing to lose kan...^^

anymay, nice shot!!

 

Copyright(r) by wongkentir