Monday, November 05, 2007

Save The Angklung

Di usia yang sudah 24 tahun, baru bulan November ini gue menginjakkan kaki di kota Bandung. Jika bicara tentang Bandung, orang selalu berbicara tentang FO, Kartika Sari, Cihampelas, dan tidak ketinggalan pastinya Neng-nengnya yang geulis-geulis. Tetapi bukan itu semua yang bikin gue terkesan dengan kota yang dapat julukan Paris Van Java itu.

Saat ke Bandung kemarin, gue dan rombongan dari PJB UP Muara Karang berkunjung ke sebuah tempat wisata budaya yang diberi nama saung angklung Udjo. Awalnya banyak peserta yang sudah antipati dengan tempat ini. Mereka berpikir acara yang disajikan di tempat ini bakal ngebosenin abis. Gue sampai bingung menanggapi berbagai pertanyaan peserta. “Ada apa sih di Mang Udjo? Kenapa gak mending belanja di FO aja. Kalau ke Bandung tujuannya kan wisata belanja? Kalau harus ke Mang Udjo, kapan belanjanya?“ dsb.

“Pokoknya asyik deh Pak, Bu,“ gitu aja jawaban gue sambil bercanda. Lha harus gimana lagi gue ngejawabnya. Kesana aja belum pernah. Gimana gue bisa nggambarin keadaan disana. Gue cuman berharap, semoga disana benar-benar ada kejutan yang bisa bikin mereka gak nyesel datang kemari.

Dan begitu acara di Mang Udjo yang berdurasi selama 2 jam berakhir, harapan gue bukan hanya terkabul, tapi super-super terkabul. Bukan cuma satu, dua kejutan yang gue dan penonton yang lain dapat, tetapi berkali-kali, hingga rasanya benar-benar sangat puas. Lebih puas lagi ketika orang-orang yang tadinya dah antipati akhirnya jadi ikutan seneng.

Acara di sana diawali dengan pertunjukan wayang golek. Eh, ternyata acara yang sering gue lewatin waktu ditayangin di tipi itu benar-benar menarik. Banyak penonton yang ketawa ngelihatnya. Terutama waktu si cepot beraksi. Wah seru banget deh pokoknya.

Setelah itu acara dilanjutkan dengan kirab seorang anak kecil yang diangkat dengan tandu oleh beberapa orang dewasa. Dibelakangnya, mengekor berpuluh-puluh anak-anak kecil yang bermain-main dengan ceria. Ada yang main egrang, menari-nari hingga mainan angklung. Sempet ketawa waktu ada celetukan dari belakang, “Lho-lho, anak kecilnya banyak banget. Anak siapa aja ya?“

Suasana pun jadi lebih ceria, ketika anak kecil yang dikirab itu turun dari tandunya dan ikut berjoget-joget. Banyak yang gemes dengan tingkah laku anak kecil yang menurut perkiraan gue masih berusia sekitar 2 tahun itu. Tidak sedikit dari mereka yang berusaha untuk mencolek dan mencubit saat anak kecil itu mendekat ke penonton.

Kemudian acara dilanjutkan dengan permainan angklung dari puluhan anak-anak didik junior saung angklung udjo. Usia mereka berkisar antara 2 hingga 10 tahun. Mereka memainkan medley lagu-lagu daerah nusantara mulai dari Bungong Joempa, Jali-jali, hingga Yamko rambek yamko. Kali ini bukan hanya decak kagum yang keluar dari mulut para penonton, tetapi ada juga yang gue liat sampai meneteskan air mata. Beberapa dari mereka terharu atas semua yang ditontonnya ini.

Puncak acara adalah saat semua penonton yang ada dipanggung dipinjami masing-masing satu angklung yang sudah ditempel angka yang nunjukin tangga nada dari angklung tersebut. Dan dengan bantuan dirigen salah seorang putera dari almarhum Mang Udjo, pendiri Saung Angklung Udjo ini, gue dan para penonton semua memainkan beberapa buah lagu. Mulai dari lagu Indonesia seperti Lagu surgamu dari ungu, lilin kecilnya Chrisye hingga lagu-lagu internasional seperti I Have A Dream, Cant Help Falling in Love dan lain-lain.

Gue benar-benar larut dalam kebahagiaan dan terharu. Apalagi ketika sang dirigen berulang kali menyerukan kalimay, “Kita harus menjaga angklung ini dari klaim negeri tetangga, Malaysia. Kita harus melestarikan kebudayaan kita ini dan membuktikan pada dunia bahwa Angklung is Indonesia“

Ya benar, kita harus menyelamatkan alat musik yang sederhana tapi hebat ini dari tangan orang lain. Kalau bukan kita sendiri, siapa lagi....

Acara ditutup dengan pertunjukkan orkestra Angklung oleh beberapa murid-murid saung Udjo yang sudah senior. Ternyata hanya dengan angklung, bisa dihasilkan melodi yang luar biasa indahnya. Gak kalah deh sama orkestranya Addie MS ataupun Dwiki Dharmawan. Ck ck... keren banget. Dan itu bukan gue aja yang ngerasa. Begitu acara selesai, banyak yang menyalami Pak Sunoto selaku ketua panitia acara ini. Mereka tampak sangat puas.

Satu lagi dari Bandung yang tidak bisa kita lupakan selain FO dan wisata belanjanya. Disini kita punya kesenian daerah yang luar biasa hebatnya. Angklung. Dan untuk melestarikannya bukan hanya tanggung jawab Saung Udjo, tetapi gue dan elo-elo semua.

Come on Guys, we save angklung and show to the world that Angklung is from Indonesia


0 Comments:

 

Copyright(r) by wongkentir